Gaji Besar, Istri Cenderung Kehilangan Rasa Hormat Kepada Suami

Artikel Inspiratif Kehidupan

Gaji Besar, Istri Cenderung Kehilangan Rasa Hormat Kepada Suami.

Masuk hari ke 19 puasa Ramadhan 2016, usai sholat subuh di salah satu masjid di kota Surabaya, selalu diadakan ceramah agama yang ke-berlangsung-an-nya tergantung kedatangan dari sang Penceramah.

Ragam pengetahuan baru tentang agama telah lumayan menambah perbendaharaan pengetahuan pribadi.

Tahun ini semoga hidayah lengkap puasa, lengkap sholat 5 waktu, dan lengkap sholat taraweh, semoga bisa menjadi target pelaksanaan yang menjadi wujud nyata.

Hal kenyataan ini adalah merupakan peningkatan pencapaian nikmat yang belum tentu diperoleh atau dirasakan orang lain.

Saya sangat beruntung bisa mendapatkannya, Alhamdullilah.

Ceramah subuh diisi oleh seorang Penceramah yang dalam penampilan mencerminkan sebagai seorang bapak muda, ganteng, tubuh tinggi tegap, terbayang seorang wanita sangat beruntung memilikinya dan menjadi istri tercinta dihatinya.

Tema yang diangkat lumayan mengena dengan persoalan pribadi yang menggelayut dan sedang sangat membutuhkan masukan positif.

Diangkat permasalahan tentang cara menangani masalah kehidupan yang dianggap sangat berat, seolah tidak mampu untuk menyelesaikannya, seolah permasalahan yang sangat besar dari apapun.

Awal naik mimbar masih seperti biasa pada umumnya.

Diawali kalimat doa, sejenak hening dan kemudian "Baru dua hari yang lalu, saya bertemu dengan Kepala Pengadilan Agama Surabaya", demikian sang Penceramah ganteng tegap, mengawali materi ceramahnya.

Namun selanjutnya meluncur beberapa kalimat terucap, dan seperti sengat setrum listrik mampu menghapus semilir rasa mengantuk.

"Dari beliau, terungkap bahwa di wilayah kota Surabaya saja, terdapat pengajuan permohonan perceraian hampir mendekati angka 8.000", ini masih kalimat biasa.

"Dari angka tersebut sekitar 80% diajukan oleh pihak istri", ini mah masih lumrah, mata makin merem lebih baik.

"Fakta menariknya adalah bahwa dari jumlah pengajuan permohonan perceraian dari pihak istri tersebut, hampir 80% pula pengajuan permohonan perceraian tersebut, diajukan oleh pihak istri yang memiliki status sebagai wanita pekerja", dan "gedubrak jrueng" rasa mengantuk langsung hilang, saat kalimat terakhir memasuki gendang telinga.

Rasa mengantuk hilang, karena saya anggap sang penceramah seolah sedang meledek saya, karena matanya tajam menatap mata saya, yang kebetulan duduk tiga baris didepannya, sementara dia berdiri diatas mimbar.

Fakta fenomena pengajuan permohonan perceraian tersebut, menjadi perbincangan serius dari sang Penceramah saat bertemu dengan Kepala Pengadilan Agama Surabaya, pada sekitar dua hari lalu itu.

fakta perceraian diakibatkan gaji istri lebih tinggi
Tampaknya data tersebut, menyiratkan fakta baru betapa lemah tali ikatan pernikahan, karena ukuran kemampuan menghidupi diri sendiri menjadi tolok ukur keutuhan dan kebersamaan dalam rumah tangga.

Para istri yang mengajukan permohonan perceraian dengan dasar kemampuan ekonominya yang lebih baik dibandingkan dengan suami (gaji istri lebih besar dari suami), seolah tidak menyadari akan ada anak yang menjadi korban atas tindakannya itu.

Para istri dengan latar belakang memiliki pendapatan lebih besar dari suami, cenderung kehilangan rasa hormat terhadap suaminya.

Tingginya rasa simpati dari sebagian masyarakat dalam memandang status orang tua tunggal (single parent), bagi para istri justru dianggap sebagai suatu peluang lebih menarik untuk diperjuangkan, karena siapa tahu kondisi status dan rasa simpati itu, malah bisa semakin menguntungkan posisinya. (so pasti ada pihak yang kurang setuju, maka silahkan disediakan tempat memberikan komentar sehat).

Bagi para suami terjadi dilema, bahwa kehormatannya ter-intimidasi tiap hari.

Apalagi kenyataan di lapangan memperlihatkan secara kasat mata terjadi persaingan kesempatan kerja.

Kesempatan kerja para pria kini cenderung menyempit, akibat semakin banyak posisi pekerjaan saat ini, justru lebih dipercayakan kepada pekerja wanita.

(so pasti ada gerak bibir mencibir, akan lebih elegan jika disampaikan dengan tulisan komentar bermanfaat lebih baik).



Kemunculan kondisi sosial dalam memenuhi kebutuhan hak emansipasi, tentu harus segera mendapatkan perhatian serius dari pemerintah, karena sepertinya reaksi kodrat alam saat ini mulai menampilkan atau menampakkan fenomena baru yang tidak menggembirakan, karena berpeluang besar mampu mengancam kehidupan generasi baru.

Atau hal demikian ini dikarenakan sosialisasi pemahaman hak emansipasi, dalam kenyataanya memperoleh porsi lebih besar, daripada sosialisasi tentang kewajiban emansipasi?.

Bukankah dimana terdapat hak, maka harus disertakan pula tentang kewajiban?.

Sedikit kenyataan mengganggu bahwa lebih sering dijumpai program konsultasi tentang keutuhan rumah tangga, yang bisa didengar, dilihat atau dibaca di berbagai media, terutama media permasalahan wanita dan keluarga, cenderung mengedepankan kepentingan wanita, dan atau kesan pembenaran sikap yang diambil wanita, dan atau reaksi simpati terhadap pengakuan sepihak wanita.

Lebih mudah dijumpai tentang kondisi tersebut, apalagi dibumbui sedikit teknik gerakan gemulai menghapus air mata.

Itu semua artinya penyebab utama keretakan hubungan rumah tangga, selalu diawali tudingan awal, dan atau nilai defaultnya selalu diisi dengan kecurigaan perilaku berengsek para pria.

(efek maksud kalimat dipastikan memunculkan variant berbeda, tergantung kondisi psikologis para pembaca. Atau tulis komentar dan itu jauh lebih baik).

Anak Korban Perceraian, Saat Dewasa Cenderung Melakukan Perceraian

Disampaikan oleh sang Penceramah Subuh bahwa "perceraian bukan penyakit keturunan".

Disampaikan pula dengan penjelasan panjang lebar, tentang adanya riwayat kejadian di jaman kehidupan Nabi Muhammad SAW, saat ada pihak istri mengajukan permohonan perceraian, segera dikabulkan, manakala gaji suami tidak mencukupi kebutuhannya, dan pernikahan tersebut utamanya adalah belum memiliki anak.

Namun sebaliknya ada riwayat pula, saat pernikahan telah memperoleh amanah berupa anak, maka permohonan perceraian dari pihak istri tidak dikabulkan, apalagi suami tidak menghendaki terjadinya perceraian.

Baca : Cerai Sebuah Kata Menakutkan Bagi Semua Anak

Orang tua yang melakukan perceraian, cenderung membekali anak anaknya, berupa nasehat "semoga kehidupan kalian, kelak tidak seperti yang kualami ya nak".

Pesan nasehat itu baik, namun pada diri anak justru malah terbentuk sinyal negatif yang muncul pada alam bawah sadarnya, berupa pesan berulang berlatar belakang rasa takut, berupa bisikan beruntun "semoga pernikahanku kelak, tidak mengalami perceraian".

Pesan berulang pada alam bawah sadar dengan latar belakang ketakutan, justru malah bisa menjadi faktor utama pemicu terjadinya perceraian.

Mengatasi Anggapan Permasalahan Lebih Besar Dari Apapun

Allah SWT memberikan masalah kepada seseorang hamba, dikarenakan Allah SWT memiliki penilaian jitu, bahwa hamba tersebut pasti mampu menyelesaikannya.

Kiat sederhana apabila merasakan tidak mampu mengatasi permasalahan, adalah dengan cara mengembalikan permasalahan hanya kepada Sang Maha Benar Sang Maha Sumber Solusi.

Serta sementara waktu menantikan datangnya solusi, akan lebih baik berlindung dibalik dua faktor penolong utama manusia, yakni dengan menjalankan sikap sabar, dan menjalankan seluruh kewajiban sebagai seorang hamba ciptaanNYA.

Ditambahkan sebagai pengingat utama, adalah bahwa saat menjalankan sholat, dipastikan akan menyebutkan "ALLAHU AKBAR" yang artinya Allah Maha Besar.

Dengan demikian persoalan permasalahan yang Anda anggap sangat besar, tidak terselesaikan, sebenarnya amat sangat kecil, setelah Anda menyebutkan "ALLAHU AKBAR" di setiap kegiatan kewajiban menjalankan sholat.



Artinya masukkan dalam pikiran bawah sadar Anda, bahwa persoalan yang Anda hadapi adalah persoalan biasa dalam menjalani kehidupan dunia.

Dengan menambahkan sikap sabar, maka pikiran bawah sadar akan membimbing Anda menemukan wujud nyata dari isi pikiran bawah sadar Anda itu.

Apapun isinya, jika pikiran bawah sadar Anda berisi hal baik, maka Anda secara alami menuju ke arah hal baik itu, demikian pula sebaliknya (tidak disarankan).
Daripada memikirkan hal jelek, lebih baik mengisi pikiran bawah sadar dengan hal baik. 
Daripada memikirkan hal merugikan, lebih baik mengisi pikiran bawah sadar dengan hal menguntungkan. 
Daripada memikirkan pria / wanita lain, lebih baik mengisi pikiran bawah sadar dengan gambar sikap suami / istri sendiri yang semakin tambah usia semakin mempesona, dengan limpahan rejeki makin mempesona, dengan limpahan kesehatan makin prima, ditengah keceriaan anak cucu yang kelak memiliki keindahan dan keberuntungan bisa memiliki panutan mempesona dari orang tua seperti Anda berdua.
Gaji Besar, Istri Cenderung Kehilangan Rasa Hormat Kepada Suami.

Artikel Inspiratif Kehidupan
Semoga bermanfaat.

SEO Tools | SEO Company | SEO Services

Ayat Cinta Untuk Lelaki

Artikel Inspiratif Kehidupan Follow my blog with Bloglovin  | Ayat Cinta Untuk Lelaki . Entahlah bagaimana cara mencari cinta sejati ...