Uangku Tidak Laku

Uangku Tidak Laku

Sebuah cerita motivasi dan inspirasi tentang kehidupan, geregetan, jengkel, mangkel, jutek, merasa tertipu dan memble ... gedubrak ... jatuh ndelosor kehilangan kekuatan.

Sesaat setelah beberapa lembar halaman kubaca dari salah satu buku yang menarik perhatianku, dan kutemukan dan kubeli di salah satu toko buku lobby bandara Balikpapan.

Waaa ... lha bagaimana tidak jengkel, tiga puluh dua tahun bekerja babak belur, sampai pada hari menemukan pencerahan dari isi buku diatas, merasakan betapa bodohnya selama ini.

Penantian seluruh keluarga atas nikmat hasil jerih payah mencari nafkah, seolah tidak maksimal dan teramat sangat bodoh.

Seharusnya waktu penantian untuk hidup layak sejahtera, tidak perlu menunggu selama puluhan tahun begitu.

Seharusnya setiap lembar uang hasil mencari nafkah, bisa untuk merasakan nikmat nafkah berkelimpahan dan berkah.

Ya karena faktor bodoh itulah, maka betapa kasihan semua keluargaku, dan betapa kasihannya diriku.

Harus butuh waktu hingga tiga puluh dua tahun, untuk menemukan pencerahan tentang mutu kehidupan yang sesungguhnya.

Panjang lebar kalimat diatas, apa hubungannya dengan judul artikel?.

Sepertinya tidak nyambung, ya?.

Berikut penjelasan panjangnya

Alkisah seorang lelaki yang tidak lain diriku sendiri, menapaki masa remaja yang seperti remaja pada umumnya, yakni bodoh dan tiap hari bergulat untuk menemukan jati diri.

Singkat cerita, secara insting sebagai lelaki, maka memiliki sumber nafkah kehidupan adalah fokus utama.

Naluri alamiah untuk memiliki tiga pilar kehidupan lelaki (yakni harta tahta dan wanita), bisa segera terwujud nyata.

Bekerja adalah satu satunya jalan untuk memperoleh nafkah kehidupan.

Jadilah pilar kedua dapat diraih, memperoleh tahta menjadi seorang prajurit Angkatan Darat.

Kembali insting terus memandu dengan pertanyaan dasar "bagaimana meningkatkan derajat tahta, agar bisa mendapatkan hasil maksimal, untuk meraih harta dan wanita ?".

Dengan hasil standar kelas biasa, maka derajat tahta mulai meningkat, dengan rasa syukur dan kecewa yang silih berganti tergantung kondisi.

Singkat cerita pilar ketiga justru teraih terlebih dahulu, setelah pilar kedua, sementara pilar pertama seolah mencibir.

uangku tidak laku
Sebagai prajurit yang terikat aturan ketat, maka kebebasan ekspresi dan prestasi sangat ditentukan oleh kondisi hati yang sedang baik atau buruk, kondisi rasa suka atau tidak, dari komandan.

Gelagat insting memberitahu, sepertinya perjuangan bakal tersiakan, apabila tetap bertahan di titik tahta ini.

Singkat cerita mencari tahta baru, dengan kembali melayangkan surat lamaran kerja ke berbagai institusi, sebagai arena batu loncatan untuk meraih tahta berikutnya.

Sampailah angka 20 tahun bekerja dengan hasil punya tahta, dan punya wanita.

Harta terus menampakan raut wajah mencibir, dan terus mengejek, serta merendahkan semangat ...

Tahun 2000, inilah saat pertama aku bisa meraih dan menggenggam nilai angka nafkah kehidupan, sebesar satu juta rupiah.

Sebuah angka impian saat itu.

Aku telah masuk kedalam derajat tahta baru sebagai jutawan, karena punya gaji sebesar satu juta sebulan ... hehehe...

Padahal pada saat sama.

Om Liem Siau Liong, kang Bill Gates, akang Warren Buffet, bung Muchtar Riady, cak Chairul Tanjung tidak lupa pak de Dahlan Iskan, serta masih banyak lagi ...

Mereka beberapa tahun sebelumnya, sudah membangun kerajaan bisnis, dengan aset bernilai puluhan hingga ratusan milyar ... setiap hari ...setiap jam

Bahkan saat itu, kang Bill Gates dan akang Warren Buffet memiliki penghasilan ratusan milyar ...setiap detik.

Tetapi tidak apa, saat sama cibiran pilar pertama kehidupan lelaki yakni harta, masih tetap tidak bosan setiap detik hanya mencibirku dan merendahkan diriku.

Gaji sebulan satu juta...terasa besar.

Hal itu hanya pada 3 bulan pertama, karena setelahnya, dapat merasakan bahwa ternyata hanya memiliki mutu nilai "cukup".

Untuk menutup kebutuhan hidup keluarga selama 2 minggu saja, karena dua minggu berikutnya, gaji istri ikut tergerus kebutuhan hidup.

Sebagai hasil akhir, maka suka atau tidak harus kembali menghadapi kondisi krisis ekonomi.

Efek dominonya harus bekerja makin keras, hingga efek sampingnya membutakan komitmen perolehan pilar ketiga, dan bubar cerita.

Karakteristik tiga pilar kehidupan lelaki, yakni pilar pertama dan kedua membutuhkan teknik dan taktik.

Sementara pilar ketiga disamping teknik dan taktik, juga sangat menguras energi perasaan dalam waktu relatif lebih lama.

Uangku Tidak Laku

Gaji 1 juta per bulan, ternyata tidak mampu menutup salah satu faktor ekonomi yang biasa disebut oleh para pakar ekonomi disebut sebagai nilai inflasi.

Apabila gaji satu juta pada saat awal kerja tahun 1980, status masih tingting bujang atau bujangan tingting atau perjaka tingting, waa...pasti setelah dua tahun, bisa beli rumah.

Karena baru dapat gaji satu juta 20 tahun kemudian, yakni tahun 2000.

Maka nilai satu juta pada saat itu, hanya mampu untuk bertahan hidup selama dua minggu saja.

Sementara nilai satu juta rupiah saat artikel ini dibuat, hanya cukup untuk menutup kebutuhan hidup salah satu anakku yang sedang menjalani masa kuliah, selama satu bulan.

Lha padahal anakku ada tiga orang, ada istri, ada aku sendiri.

Belum bayar listrik, air, pulsa telpon, tv kabel, dan tetek bengek biaya hidup keluarga selama satu bulan.

Jadi intinya cocok bahwa pilar pertama kehidupan lelaki, yakni harta, sangat licin dan sulit meraihnya, dikarenakan faktor utama yakni nilai uangku tidak laku dalam jangka panjang.

Uangku tidak laku, hanya berharga dalam waktu relatif pendek, jangan bayangkan uang satu juta rupiah seperti contoh diatas.

Memberikan uang saku sehari pada anak sulung saat kelas satu sekolah SMP, cukup uang senilai seribu rupiah.

Namun saat anak bungsu kelas satu sekolah SMP, baru disebut layak apabila kita berikan sepuluh ribu rupiah.

Apa dong solusi tentang masalah uangku tidak laku ini?.

Itulah kegusaranku yang mengawali kalimat artikel ini,

Kalimat artikel ini sebagai ungkapan kejengkelan utama.

Menyadari bahwa masa tiga puluh dua tahun bekerja, tiap hari bergulat kerja demi untuk memperoleh rupiah.

Ternyata sang rupiah memiliki penyakit pilek yang sulit disembuhkan.

Apabila saat musim inflasi, bengek rupiah kambuh.

Amat sangat teramat banyak para teman bodoh sepertiku tidak menyadarinya.

Teman, kembali ke awal cerita artikel ini, yakni saat membeli buku di lobby bandara Balikpapan.

Saat itu kubeli dua buku, dan keduanya menarik perhatianku karena memang saat itu yang terlintas di benakku adalah sudah waktunya bagiku untuk melakukan investasi baru.

Yang dapat kulakukan tanpa harus keluar rumah, jadi intinya mencari peluang baru untuk memperoleh penghasilan tanpa bekerja diluar rumah.

Kedua buku itu adalah cara bisnis jual beli saham perusahaan, buku ini menyita perhatian hingga butuh dua hari kubaca, dengan harapan bisa memberi pencerahan tentang bagaimana cara investasi yang aman.

Nah ...sementara buku kedua baru kubaca pada hari ketiga, yakni hari ini, tepatnya beberapa menit lalu, saat sebelum menulis artikel ini.

Buku kedua kubaca, mampu mengeluarkan semua emosiku, semua ratapanku, dan menggelorakan kembali semangat untuk menata ulang kembali kesalahan tiga puluh dua tahun.

Berkeringat bekerja dengan hasil tidak maksimal, dan kutulis ulang kenapa hasil tidak maksimal, dikarenakan hasil yang kuperoleh ternyata hanya memiliki mutu sebagai uangku tidak laku.



Menurut buku yang kubaca, solusinya adalah saat menerima uang dalam mata uang rupiah, sebagian harus diganti dengan mata uang kebal inflasi.

Uang kebal inflasi, nilainya justru mampu bertahan ribuan tahun, bahkan diyakini mampu kebal inflasi selamanya.

Bukan ringgit, bukan dollar, bukan yen, bukan euro, bukan poundsterling.

Kenapa saat membaca saya merinding bulu roma, karena mata uang ini justru disabdakan oleh Baginda Rosul Nabi Muhammad SAW, dan tertera jelas pada ayat kitab suci Al Quran.

Mohon maaf saya tidak bohong.

Benar ... saya tetap menggunakan rupiah untuk keperluan operasional kehidupan keluarga.

Saya akan mengganti sebagian rupiah dengan mata uang dirham dan dinar, apabila ingin memiliki nilai uang tahan banting terhadap inflasi.

Dirham dan Dinar tetap memiliki nilai sama walaupun terjadi gejolak moneter atau krisis ekonomi.

Baca : Nikmati Hidupmu Pada Hari Ini

Kebodohan selama tiga puluh dua tahun, biarlah menjadi cerita motivasi dan inspirasi tentang kehidupan.

Kini telah menemukan pencerahan nyata.

Kini uangku tidak laku telah berubah menjadi uangku tetap mahal dan laku selamanya.

Itu inti dari buku kedua, yang berjudul "Think Dinar", karya Endy J. Kurniawan.

Uangku Tidak Laku
Semoga bermanfaat.

SEO Tools | SEO Company | SEO Services

Ayat Cinta Untuk Lelaki

Artikel Inspiratif Kehidupan Follow my blog with Bloglovin  | Ayat Cinta Untuk Lelaki . Entahlah bagaimana cara mencari cinta sejati ...